Kamis, 14 Juli 2011

PENGARUH PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI TERHADAP PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Kelancaran atau keberhasilan suatu perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen di dalam mengambil keputusan. Agar suatu operasi perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka manajemen memerlukan informasi yang dapat dipercaya sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Dan sejalan dengan semakin berkembangnya volume perusahaan, maka menejemen semakin dituntut untuk mangatasi aneka ragam masalah yang dihadapi.
Suatu manajemen yang baik tidak hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi manajerial , tetapi dituntut untuk membuahkan keputusan yang tepat. Oleh karena itu untuk mendapatkan keputusan yang tepat, manajer harus mampu mengukur dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan di dalam organisasinya.
Semakin berkembangnya suatu perusahaan yang diiringi dengan semakin kompleksnya aktivitas yang dijalankan akan menuntut adanya pelaksanaan aktivitas yang efektif dan efisien.
Hal ini mengingat karena para manajer tidak dapat lagi memonitor secara langsung aktivitas yang dijalankan oleh para bawahannya. Namun dilain pihak perusahaan harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas baik dengan harga yang wajar, sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing dipasaran.Dalam keadaan ini perusahaan harus membuat suatu planning yang matang agar sumber daya yang dimilikinya dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mendapatkan laba,atau jika terjadi kerugian maka diusahakan kerugian tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.
Tujuan utama perusahaan pada umumnya adalah untuk memperoleh laba yang optimal. Hal ini tidaklah mengherankan karena dengan laba suatu perusahaan dapat mempertahankan hidupnya dan memperluas usahanya. Selain itu keberhasilan suatu perusahaan sering kali dinilai dari tingkat laba yang dihasilkan. Untuk menghasilkan laba, suatu perusahaan dapat melakukan dua cara. Cara pertama dengan menaikan harga jual. Tindakan ini memang dapat meningkatkan laba,namun dalam kondisi persaingan yang semakin ketat ini,perusahaan tidak mudah untuk menaikan harga jual karena dapat menyebabkan konsumen lari ke produk pesaing yang memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas produk yang sama. Cara kedua adalah dengan menekan biaya produksi secara efisien dan mengendalikan komponen biaya-biayanya sehingga biaya produksi yang dikeluarkan dapat ditekan seminimal mungkin. Biaya produksi yang tidak terkendali akan menyebabkan harga pokok terlalu tinggi, yang selanjutnya akan menurunkan daya saing produk dan akhirnya dapat menurunkan laba. Untuk itu biaya produksi harus dicatat dengan baik dan dihitung dengan benar sehingga dapat menghasilkan harga pokok produk yang tepat. Dengan demikian perusahaan dapat menetapkan harga jual yang kompetitif,yang dapat mengoptimalkan laba sekaligus memenuhi tuntutan konsumen.
Agar manajemen dapat menggunakan biaya secara efisien, maka ia memerlukan informasi biaya yang handal.pengertian harga pokok menurut Mulyadi (1999,hal10) adalah sebagai berikut: “Harga pokok adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau pengorbanan sumber ekonomi dalam mengolah bahan baku menjadi produk”. Dengan demikian, apabila perhitungan harga pokok telah dilakukan dengan tepat dan benar, maka akan memungkinkan tercapinya penetapan harga jual yang efektif.
Untuk memperoleh informasi harga pokok yang tepat dibutuhkan suatu metode yang tepat untuk mengakumulasikan biaya-biaya yang terjadi. Ada dua metode perhitingan harga pokok yang umum digunakan, yaitu process costing method (metode harga pokok proses), dan job order costing method (metode harga pokok pesanan).
Dalam metode harga pokok proses, harga pokok setiap produk dihasilkan dengan cara membagi total biaya produksi untuk periode tertentu dengan jumlah yang dihasilkan dalam periode tersebut. Metode harga pokok proses umumnya digunakan pada perusahaan yang menghasilkan produk sejenis sedangkan dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi dikumpulkan untuk masing-masing pesanan. Metode harga pokok pesanan biasanya banyak dipakai untuk perusahaan yang memproduksi produk sesuai pesanan dimana harga pokok pesanan yang satu akan berbeda dengan harga pokok pesanan yang lain yang memiliki spesifikasi yang berbeda. Perusahaan yang memproduksi berdasarkan pesanan ini memiliki dua macam sistem perhitungan harga pokok, yaitu sistem harga pokok yang sesungguhnya dan sistem harga pokok pesanan dimuka. Dengan metode harga pokok pesanan dimuka perusahaan dapat menghitung harga pokok sebelum proses produksi dilaksanakan,sehingga dapat diajukan harga penawaran yang tepat kepada calon pemesan. Untuk itu dibutuhkan informasi biaya produksi yang akurat dan tepat waktu, sehingga perhitungan harga pokok pesanan dimuka ini dapat dilakukan dengan baik. Misalkan proses produksi akan ditentukan oleh spesifikasi dari pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain,tergantung dari spesifikasi dari pemesan. Harga jual yang akan ditetapkan oleh perusahaan adalah harga jual dimuka, dimana harga harus selalu ditentukan sebelum proses produksi dilaksanakan sebagai bahan pertimbangan diterima atau ditolak suatu pesanan. Untuk itu perusahaan menggunakan metode harga pokok pesanan dimuka. Pengertian sistem harga pokok ditentukan dimuka merupakan sistem pembebanan harga pokok pada produk yang dihasilkan, sebesar harga pokok yang ditentukan dimuka, sebelum proses produksi dilakukan.
Dengan demikian, diperlukan perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang benar dan tepat untuk setiap pesanan secara individual, mengenai biaya-biaya yang harus dikorbankan oleh perusahaan dalam memproduksi barang atau jasa sehingga melalui perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang memadai,diharapkan tercapainya penetapan harga jual yang efektif dan tercapainya laba yang diharapkan. Sekalipun biaya bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga jual, namun pada umumnya biaya dipandang sebagi titik tolak dalam usaha penetapan laba yang diharapkan. Hal ini ditujukan untuk pencapaian harga yang dapat menutupi seluruh biaya ditambah pengembalian yang layak atas modal yang diinvestasikan.
Agar harga jual dapat ditetapkan dengan memadai, dalam arti harga jual tersebut minimal dapat menutupi biaya yang dikeluarkan, harga jual dapat bersaing dengan perusahaan sejenis, dan harga jual mengandung laba yang dapat diharapkan perusahaan, maka satu cara yang digunakan adalah dengan menghitung terlebih dahulu harga pokok produksi. Harga pokok produksi adalah suatu aspek yang sangat penting dalam perusahaan.Tanpa adanya perhitungan harga pokok produksi yang tepat dan benar, maka perusahaan yang bersangkutan tidak akan mengetahui dengan pasti keuntungan yang diperolehnya atau mungkin juga kerugian yang dideritanya.untuk itu perusahaan merasa perlu untuk menggunakan sistem akuntansi biaya. Melalui sistem akuntansi biaya ini perusahaan akan memperoleh informasi–informasi biaya yang dibutuhkan untuk setiap produk pesanan dalam rangka menghitung biaya-biaya produksi yang diperkirakan terjadi.Walaupun informasi biaya bukanlah satu-satunya informasi yang dibutuhkan manajemen, akan tetapi paling tidak informasi biaya dapat mencerminkan unsur-unsur biaya secara rinci dari produk yang dihasilkan. Melalui sistem akuntansi biaya yang digunakan di dalam sebuah perusahaan, maka dimungkinkan digunakan suatu metode akuntansi untuk mengumpulkan biaya-biaya yang dikeluarkan yaitu metode akumulasi biaya produksi. Metode akumulasi biaya produksi secara ekstrim dibagi dua yaitu metode akumulasi biaya produksi berdasarkan pesanan (job order costing method) ,dan metode akumulasi biaya produksi berdasarkan proses (process costingmethod).
Selain itu di dalam perhitungan harga pokok produksi diperlukan adanya sistem biaya. Sistem biaya dibedakan menjadi dua, yaitu sistem biaya yang ditetapkan dimuka (predetermind costing system),dan sistem biaya yang sebenarnya (historical cost system). Harga pokok yang menerapkan sistem biaya historis dihitung pada saat produk selesai. Data ini bermanfaat dalam memberikan informasi untuk masa yang akan datang guna memperbaiki apa yang telah dilakukan dimasa lalu.selain itu juga manajemen ,memerlukan data biaya untuk mengukur kegiatan yang sedang berjalan. Hal ini yang mendorong pemakai metode perhitungan harga pokok produksi yang ditentukan dimuka. Melalui data ini manajemen dimungkinkan untuk mengetahui berapa biaya yang seharusnya sebelum produksi dimulai,sehingga harga jual dapat ditentukan dengan efektif. Dari uraian latar belakang masalah tersebut diatas, penulis mengambil judul “PENGARUH PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI TERHADAP PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK”










1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian, penulis akan mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.Bagaimana perhitungan harga pokok dimuka.
2.Bagaimana penetapan harga jual produk pesanan yang dihasilkan perusahaan.
3.Apakah perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang dilakukan perusahaan berperan dalam menunjang efektivitas penetapan harga jual.

1.3 Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yg telah diuraikan tersebut diatas, maka dapat diambil rumusan masalah yaitu sebagai berikut “Apakah Ada Pengaruh Perhitungan Harga Pokok Produksi Terhadap Penetapan Harga Jual Produk” .

1.4 Maksud dan Tujuan
Dengan ditetapkan permasalahan yang diungkapkan dalam identifikasi masalah. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah:
1 Untuk mengetahui bagaimana peranan perhitungan harga pokok pesanan dimuka.
2 Untuk mengetahui bagaimana penetapan harga jual produk pesanan yang dihasilkan perusahaan.
3 Untuk mengetahui apakah perhitungan harga pokok pesanan dimuka yang dilakukan perusahaan berperan dalam menunjang efektivitas penetapan harga jual produk.

1.5 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh hasil dan kesimpulan yang wajar dan dapat dipercaya, terutama:
1.Sebagai sumbangan pemikiran atau sebagai bahan pertimbanagan bagi perusahaan yang bersangkutan dalam usaha penetapan harga pokok pesanan dimuka.
2.Bagi masyarakat khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi, penulis berharap hasil penelitian ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan terapan, terutam dalam perhitungan harga pokok pesanan dimuka.
3.Bagi penulis sendiri, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan teoritis yang di dapat selama kuliah, sehingga membuka wawasan yang lebih luas.

1.6 Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terbagi dalam lima bab, agar pembahasannya dapt dipahami dengan jelas, dimana setiap bab berisi :
BAB I Pendahuluan, bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, maksud dan tujuan,kegunaan penelitian, sistematika penulisan.
BAB II Landasan Teori, bab ini berisi tentang penjelasan-penjelasan tentang tinjauan teoritis biaya, pengertian harga pokok produksi, system biaya produksi, laporan biaya produksi, perbedaan full costing dan variable costing, perbedaan karakteristik metode dan proses dalam menentukan harga pokok, akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok pesanan, akuntansi biaya berdasarkan metode harga pokok proses, tujuan dan manfaat penentuan harga pokok produksi, harga jual.
BAB III Metodologi Penelitian, bab ini berisi tentang penjelasan mengenai metode yang digunakan dan jenis data yang digunakan dalam proses penelitian
BAB IV Pembahasan
BAB V Penutup













BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Teoritis Biaya
2.1.1 Pengertian dan Penggolongan Biaya
Pada dasarnya perhitungan harga produksi adalah berdasarkan biaya- biaya apa saja yang telah dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut, oleh karena itu perlu kita ketahui terlebih dahulu apa itu biaya dan bagaimana penggolongannya.

2.1.1.1 Pengertian Biaya
Pengertian biaya secara umum menurut Marcell dan Kuepper (1991 : 6 ) , yaitu:
1) banyaknya barang-barang yang dipakai,
2) keterkaitan pemakaian barang-barang untuk mencapai hasil tertentu,
3) penilaian barang-barang yang dipakai untuk mencapai hasil tertentu.

Dengan demikian dapat definisikan bahwa biaya adalah pemakainan barang-barang yang dinilai untuk mencapai hasil (output) tertentu.
Menurut Usry dan Hammer ( 2004 : 29 ), “ biaya merupakan suatu nilai tukar prasyarat atau pengorbanan yang dilakukan guna memperoleh manfaat”. Pengorbanan yang dimaksudkan dapat berupa pengeluaran kas maupun modal. Biaya menurut Bustami dan Nurlela (2009 : 7 ) yaitu “ pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu”. Biaya ini belum habis masa pakainya, dan digolongkan sebagai aktiva yang dimasukkan dalam neraca.
Menurut Harnanto (1991 :23), biaya adalah “ sejumlah uang yang dinyatakan dari sumber-sumber ekonomi yang dikorbankan (terjadi atau akan terjadi) untuk mendapatkan sesuatu atau untuk mencapai tujuan tertentu”. Berdasarkan pengertian yang diberikan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa biaya adalah pengorbanan untuk memperoleh sebuah hasil.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang menyamakan pengertian biaya dengan beban. Namun dalam akuntansi dibedakan antara pengertian biaya dan beban. Setiap beban adalah biaya, tapi tidak setiap biaya adalah beban. Berikut diberikan definisi beban. Definisi beban menurut Bustami dan Nurlela (2009 : 8), “beban adalah biaya yang telah memberikan manfaat dan sekarang telah habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat memberikan manfaat dimasa akan datang dikelompokkan sebagai harta. Biaya ini dimasukkan kedalam Laporan Laba-Rugi, sebagai pengurangan dari pendapatan”. Carter dan Usry (2006 : 30) mendefinisikan beban sebagai, “ aliran keluar terukur dari barang atau jasa, yang kemudian ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba”.
Dari uraian diatas tampak perbedaan antara biaya dan beban. Biaya ( cost) ditunjukkan untuk memperoleh barang dan jasa, serta masih memberikan manfaat diwaktu mendatang dan merupakan asset dalam neraca. Sedangkan beban (expense ) adalah biaya yang tealh habis manfaatnya dan akan dimasukkan sebagai beban kedalam perhitunga Laba-Rugi serta bertujuan untuk peenciptaan pendanaan.
2.1.1.2 Penggolongan Biaya
Klasifikasi biaya atau penggolongan biaya adalah suatu proses pengelompokan biaya secara sistematis atas keseluruhan elemen biaya yang ada kedalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih ringkas dan penting.
Akuntansi biaya dalam hal pengelompokan biaya dikenal konsep “ Different cost for different purpose”, oleh karena hal ini maka biaya dikelempokkan berdasarkan tujuannya masing-masing. Garrison, Noreen, dan Brewer (2006 : 64) mengelompokkan biaya berdasarkan tujuannya seperti yang dirincikan.
1) Menyiapkan laporan keuangan eksternal. Untuk tujuan ini biaya dibagi lagi menjadi dua yaitu, biaya produk dan biaya periodic.Biaya produk mencakup semua biaya yang terkait dengan pemerolehan atau pembuatan suatu produk. Biaya-biaya ini terdiri atas bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
2) Memprediksi perilaku biaya untuk merespon perubahan aktivitas. Dengan tujuan ini maka biaya dibagi lagi menjadi biaya tetap, biaya variabeldan biaya semi variabel.
3) Menentukan biaya ke objek biaya seperti departemen atau produk. Didalam perusahaan objek biaya dapat dihubungkan dengan produk yang dihasilkan, departemen, ataupun individu. Penggolongan biaya atas tujuan ini dibagi menjadi biaya langsung dan biaya tidak langsung.
4) Pembuatan Keputuasan. Biaya adalah bahan yang sangat penting dalam pembuatan keputusan. Untuk tujuan ini maka diperlukan pemahaman yang kuat mengenai konsep biaya differenisial ( differential cost ), biaya kesempatan (opportunity cost), dan biaya tertanam ( sunk cost). Biaya kualitas atau mutu adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kualitas barang yang di produksi.
Biaya kualitas dibagi empat yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian dan biaya kegagalan internal dan eksternal.
a) Biaya pencegahan yaitu biaya yang berkaitan dengan aktivitas untuk mengurangi jumlah produk atau jasa yang cacat.
b) Biaya penilaian disebut juga biaya inspeksi untuk mengidentifikasi produk cacat sebelum produk tersebut dikirimkan pada konsumen.
c) Biaya kegagalan internal diakibatkan oleh identifikasi cacat selama proses penilaian. Biaya ini meliputi sisa bahan, barang yang di tolak, pengerjaan ulang produk cacat, dan waktu yang terbuang karena masalah kualitas.
d) Biaya kegagalan eksternal, biaya ini terjadi apabila produk cacat sampai ketangan konsumen. Biaya ini meliputi garansi perbaikan dan penggantian, penarikan produk di pasar, dll.

Adapun klasifikasi biaya menurut carter dan usry (2006 : 40) didasarkan hubungan antara biaya dengan :
1) produk ( satu lot, batch, atau unit dari suatu barang jadi atau jasa),
2) volume produksi,
3) departemen, proses, pusat biaya, atau subdivisi lain dari manufaktur,
4) periode akuntansi,
5) suatu keputusan, tindakan atau evaluasi.

2.2 Pengertian Harga Pokok Produksi
Secara umum harga pokok produksi dapat diartikan sebagai seluruh biaya yang dikorbankan dalam proses produksi untuk mengelola bahan baku menjadi barang jadi. Adapun biaya-biaya tersebut meliputi biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Menurut Rayburn ( 1999: 31), “harga pokok produksi meliputi keseluruhan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa”.
Menurut Samryn ,( 2001 : 27) “harga pokok produksi meliputi semua biaya yang terjadi dalam rangka pembelian atau pembuatan produk”.
Cara perhitungan harga pokok produksi pada perusahaan manufaktur dapat diperlihatkan melalui table dibawah.
Harga Pokok Produksi
Persediaan awal bahan baku xxx
Pembelian bahan baku xxx +
Bahan baku yang tersedia untuk dijual xxx
Persediaan akhir bahan baku xxx –
Pemakaian bahan baku xxx
Upah langsung xxx
Overhead pabrik xxx +
Total biaya produksi xxx
Persediaan awal barang dalm proses xxx +
Total barang dalam proses xxx
Persediaan akhir barang dalam proses xxx –
Harga pokok produksi xxx

2.2.1 Unsur-unsur Harga Pokok Produksi
Ada tiga unsur biaya yang membentuk harga pokok produksi.
a. Biaya Bahan Langsung (Direct Material Cost)
b. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
c. Biaya Pabrik Tidak langsung (Factory Overhead Cost)
Biaya bahan baku langsung dan upah langsung digabungkan dalam kelompok biaya utama (prime cost). Upah langsung dan overhead pabrik digabung dalam kelompok biaya konversi, yang mencerminkan biaya pengubahanbahan baku langsung menjadi barang jadi. Berikut penjabaran unsur-unsur harga pokok produksi.



a. Biaya bahan langsung (direct material cost)
Bahan langsung atau bahan baku adalah semua bahan yang secara fisik langsung menjadi bagian utama dari barang jadi, dapat ditelusui pada produk dan jumlahnya material. Hal yang menjadi pertimbangan utama dalam mengelompokkan suatu bahan kedalam bahan langsung adalah kemudahan penelusuran proses pengubahan bahan tersebut sampai menjadi barang jadi. Bahan baku dapat diperoleh dengan membeli ataupun memproduksi sendiri, maka biaya bahan langsung merupakan semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku tersebut yang termasuk biaya angkut, biaya bongkar muat, biaya gudang, dan lain-lain. Bahan baku masuk pada perkiraan persediaan dalam perusahaan.
Ada 2 metode pencatatan persediaan dalam akuntansi yaitu:
1) Sistem periodik
Sistem periodik merupakan metode pencatatan yang tidak dapat menunjukkan jumlah persediaan akhir secara langsung di akhir periode akuntansi. Jumlah persediaan akhir dihitung langsung fisiknya digudang, sedangkan nilai persediaan yang terpakai di sesuaikan berdasarkan sisa barang di gudang pada akhir periode dengan metode perhitungan sbb :
Persediaan bahan baku awal xxx
Pembelian bahan baku xxx +
Jumlah bahan baku yang tersedia untuk dipakai xxx
Persediaan bahan baku akhir xxx -
Jumlah bahan baku yang terpakai xxx
2) Sistem perpetual
Sistem ini melakukan pencatatan transaksi secara lengkap, setiap pemakaian bahan baku dan pembelian di catat dalam akun persediaan bahan baku tersebut. Dengan melihat catatan akun persediaan atau kartu persediaan maka dapat diketahui berapa jumlah bahan yang dibeli, digunakan, dan persediaan akhir bahan baku. Bentuk kartu persediaan yang digunakan pada metode perpetual sbb:
Tanggal Dibeli Dipakai Sisa




Menurut metode ini harga pokok bahan baku yang pertama dibeli juga harus pertama digunakan dalam proses produksi. Sedangkan harga pokok bahan baku yang dibeli lebih akhir merupakan nilai persediaan. Metode ini terutama dilakukan apabila terdapat bahan baku yang mudah kusut. Berdasarkan anggapan bahwa bahan baku yang pertama beli adalah bahan baku yang pertama dipakai maka persediaan bahan baku akhir akan berisi bahan yang diterima paling akhir sehingga bahan baku mengikuti harga sedang berlaku.
• Metode LIFO ( Last in Fist Out)
Menurut metode ini, harga pokok bahan yang paling akhir dibeli dipakai sebagai harga pokok bahan yang digunakan dalam proses produksi.
• Metode Rata-rata (Average Method)
Harga pokok yang digunakan dalam proses produksi merupakan harga rata-rata pembelian bahan baku yang masih tersedia digudang. Untuk menghitung rata-rata perunit bahan baku sangat tergantung pada sistem pencatatan yang digunakan dimana apabila yang dipakai adalah sistem priodikal maka disebut weightes average, tetapi apabila sistem perpetual maka disebut metode moving average.
• Metode Identifikasi Khusus
Metode ini membebankan harga pokok produksi dengan memberi tanda khusus pada setiap kemasan bahan baku misalnya berupa kartu atau label yang berisi , informasi mengenai kuantitas yang dibeli, harga perunit dan kuantitas yang digunakan. Sehingga setiap pemakaian bahan yang
bersangkutan dapat ditentukan harga poko perunit dan totalnya, demikian pula sisa persediaan bahan tersebutpada akhir periode. Metode ini dinilai kurang praktis jika jenis bahan yang dimiliki relatif banyak.

b. Biaya tenaga kerja langsung ( direct labor cost)
Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja berupa upah yang secara langsung terlibat dalam proses pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Menurut Harnanto ( 1992 :108 ), “biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang secara langsung melaksanakan kegiatan produksi barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan, baik secara manual maupun dengan menggunakan mesin-mesin produksi.
Sutrisno ( 1999 : 65) menulis ada tiga dasar penentuan upah karyawan, yaitu:
1) Tariff berdasarkan jam kerja
Jika seorang pekerja diupah berdasarkan jam kerja, maka besarnya upah kotor yang akan dibayarkan kepada pekerja adalah sebesar jumlah jam kerja termasuk jam lembur dikalikan dengan tariff upah per jam kerja.
Upah kotor = Jumlah jam kerja x tariff / jam

2) Tarif berdasarkan unit yang diproduksi
Apabila perusahaan menggunakan tariff berdasarkan unit produksi yang dihasilkan, maka upah kotor yang akan diterima oleh pekerja adalah sebesar unit produksi yang dihasilakan oleh masing-masing pekerja dikalikan dengan tarif upah perunit.
Upah kotor = unit dihasilkan x tariff per unit

3) Tarif berdasarkan insentif
Pada tarif ini, upah kotor akan dibayarkan sebesar upah standar ditambah dengan insentif tertentu. Insentif ini diberikan karena pekerja kurang mampu memproduksi melebihi jumlah standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

c. Biaya pabrik tidak langsung (factory overhead cost)
Overhead pabrik merupakan suatu biaya keseluruhan yang membantu jalannya proses produksi namun tidak mempunyai hubungan langsung dengan hasil produksinya, atau dengan kata lain bahwa biaya overhead pabrik adalah biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Walaupun biaya overhead pabrik tidak mempunyai hubungan langsung pada produk yang dihasilkan, tetapi tetap diperlukan karena sebagian biaya overhead pabrik sering kali berubah-ubah dari waktu ke waktu, baik karena faktor musiman, perubahan kapasitas produk maupun sejenisnya. Pembebanan biaya overhead mengalami sedikit kerumitan mengingat biaya overhead jenisnya bervariasi dan sifatnya berbeda-beda.
Untuk itu diberikan beberapa cara perhitungan beban overhead yang umum dalam perusahaan manufaktur, berikut perinciannya.
1) Berdasarkan taksiran jumlah unit yang diproduksi
Tarif overhead per unit = Anggaran biaya overhead
jumlah unit produksi
Metode ini cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis barang.

2) Berdasarkan taksiran biaya bahan langsung
% biaya overhead terhadap bahan baku = anggaran biaya overhead pabrik
taksiran biaya bahan baku.
Semakin besar biaya bahan langsung yang dikeluarkan dalam pengolahan produk, maka semakin besar juga biaya overhead pabrik yang dibebankan kepadanya. Metode ini jarang dipakai karena tidak ada hubungan yang logis antara biaya bahan baku dan overhead.

3) Berdasarkan taksiran biaya upah langsung
% biaya overhead terhadap BTKL = anggaran biaya overhead pabrik
taksiran biaya tenaga kerja langsung

4) Berdasarkan taksiran jam kerja langsung
Tarif overhead per jam kerja langsung = Anggaran biaya overhead pabrik
taksiran jam kerja langsung

5) Berdasarkan taksiran jam kerja mesin
Tarif overhead per jam = anggaran biaya overhead pabrik
taksiran jam mesin

2.3 Sistem Biaya Produksi
Menurut Bustami dan Nurlela ( 2009 : 39 ), “ Sistem biaya adalah organisasi dari formulir, catatan dan laporan yang terkoordinasi yang bertujuanuntuk melaksanakan kegiatan dan merupakan informasi biaya bagi manajemen”.Dalam akuntansi biaya system yang dapat digunakan untuk mengalokasikan dan membebankan biaya ke unit produksi dapat dikeleompokkan menjadi tiga system yaitu :

a. Sistem biaya sesungguhnya ( Historical costing)
Sistem ini disebut juga system biaya actual adalah suatu system dalam pembebanan haraga pokok produk atau pesanan atau jasa pada saat biaya tersebut sudah terjadi atau biaya yang sesungguhnya dinikmati. Penyajian hasil baru akan dilakukan apabila semua operasi sudah selesai pada periode akuntansi yang bersangkutan. Sistem ini biasanya digunakan pada metode harga pokok proses yang menggunakan pencataan persediaan produk jadi dengan metode periodic.

b. Sistem biaya ditentukan dimuka (Standard costing)
Sistem biaya ditentukan dimuka adalah suatu system dalam pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan atau jasa dihsilkan sebesar harga pokok yang ditentukan dimuka sebelum suatu produk atau jasa dikerjakan. Metode harga pokok standar ini biasanya digunakan pada perusahaan yang memproduksi secara masal dan menggunakan pencataan persedaiaan produk jadi dengan metode perpetual.
Pada akhir periode akuntansi, kedua sistem biaya ini dicatat dan kemuadian dibandingkan sehingga menyebabkan adanya varians antara biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya yang ditentukan dimuka. Varians yang timbul disebut dengan varians lebih ( over applied ) dan varians kurang ( over applied ).

c.Sistem harga pokok normal ( normal costing)
Pada metode ini, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berdasarkan biaya sesungguhnya karena biaya tersebut mudah untuk ditelusuri kepada produk tertentu, maka biaya overhead pabrik mengggunakan tarif pembebanan dimuka. Metode ini biasanya digunakan pada metode harga pokok pesanan ( job order costing) yang menggunakan pencatatan persediaan produk jadi dengan metode perpetual.

2.3.1 Metode Penentuan Harga Pokok Produksi
Metode penentuan harga pokok produksi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode pembiayan penuh dan metode pembiayaan variable. Mulyadi (1990 : 377) menyatakan metode full costing maupun variable costing merupakan metode penentuan harga pokok produk Perbedaan pokok yang ada diantara kedua metode tersebut adalah terletak pada perlakuan terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap.


2.3.1.1 Metode Pembiayaan Penuh (Full Costing)
Metode pembiayaan penuh atau full costing atau sering pula disebut absorbtion costing atau conventional costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi baik yang bersifat tetap maupun variabel sebagai bahagian dari harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap.
Menurut LM Samryn, full costing adalah :
“Full costing adalah metode penentuan harga pokok yang memperhitungkan semua biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan overhead tanpa memperhatikan perilakunya.
Pendekatan full costing yang biasa dikenal sebagai pendekatan tradisional menghasilkan laporan laba rugi dimana biaya-biaya di organisir dan sajikan berdasarkan fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi pihak luar perusahaan, oleh karena itu sistematikanya harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk menjamin informasi yang tersaji dalam laporan tersebut
Horngen dan Foster (1995:667) mendefinisikan: “kalkulasi biaya absorbsi (absorption costing) adalah metode kalkulasi harga pokok persediaan dalam mana seluruh biaya pabrikasi langsung dan seluruh biaya overhead pabrikasi-variable dan tetap- diperlakukan sebagai inventoriable cost. Yakni persediaan menyerap seluruh biaya ini”. Dengan demikaian seluruh biaya produksi akan dimasukkan ke dalam nilai persediaan.
Tuanakotta (1999:251) memberikan penjelasan, “jika kita menggunakan konsep biaya masukan total, maka semua biaya yang diperlakukan dalam produksi harus dimasukkan dalam penilaian asset yang diproduksi”.
Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari:
1) biaya bahan baku,
2) biaya tenaga kerja langsung,
3) overhead pabrik- biaya tetap,
4) overhead pabrik- biaya variable.

Dalam metode full costing, overhead pabrik, baik yang berperilaku tetap maupun variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas dasar tarif yang telah ditentukan pada kapasitas normal atau atas dasar overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, overhead pabrik tetap akan melakat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan produk jadi yang belum laku dijual dan baru dianggap sebagai biaya ( unsur harga pokok penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjual.
Disebabkan overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal, maka jika dalan suatu periode overhead pabrik sesungguhnya berbeda dengan yang dibebankan tersebut, akan terjadi pembebanan overhead berlebihan (over applied factory overhead) atau pembebanan biaya overhead pabrik kurang (underapplied factory overhead).
Jika semua produk yang diolah dalam periode tersebut belum laku dijual, maka pembebanan overhead pabrik lebih atau kurang tersebut tersebut digunakan untuk mengurangi atau menambah harga pokok produksi yang masih dalam persediaan tersebut ( baik yang berupa persediaan produk dalam proses maupun produk jadi). Apabila dalam suatu periode akuntansi tidak terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang, maka biaya overhead pabrik tetap tidak mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba-rugi sebelum produknya laku dijual. Metode full costing menunda pembebanan overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai saat produk yang bersangkutan dijual. Jadi overhead pabrik yang terjadi, baik yang berperilaku tetap maupun yang variable masih dianggap sebagai aktiva (karena melekat pada persediaan) sebelum persediaan tersebut terjual.

2.3.1.2 Metode Pembiayaan Variabel (Variabel Costing)
Variabel costing merupakkan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya yang diperhitungkan sebagai harga pokok adalah biaya produksi variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Biaya-biaya produksi tetap dikelompokkan sebagai biaya periodik bersama-sama dengan biaya tetap non produksi.
Menurut Mas’ud Machfoed variabel costing adalah “ Suatu metode penentuan harga pokok dimana biaya produksi variabel saja yang dibebankan sebagai bagian dari harga pokok.
Pendekatan variabel costing di kenal sebagai contribution approach merupakan suatu format laporan laba rugi yang mengelompokkan biaya berdasarkan perilaku biaya dimana biaya-biaya dipisahkan menurut kategori biaya variabel dan biaya tetap dan tidak dipisahkan menurut fungsi-fungsi produksi, administrasi dan penjualan.
Dalam pendekatan ini biaya-biaya berubah sejalan dengan perubahan out put yang diperlakukan sebagai elemen harga pokok produk. Laporan laba rugi yang dihasilkan dari pendekatan ini banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pihak internal oleh karena itu tidak harus disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Horngren dan Foster (1995:667) menyatakan, “ kalkulasi biaya variabel (variable costing) adalah metode kalkulasi harga pokok persediaan dalam mana seluruh biaya langsung pabrikasi dan biaya overhead variabel pabrikasi dimasukkan sebagai inventoriable cost; biaya overhead tetap pabrikasi dikeluarkan dari inventoriable cost dan menjadi biaya saat dikeluarkan”.
Metode pembiayaan variable atau variable costing atau dikenal juga denagn nama direct costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya membebankan biaya-biaya produksi variabel saja ke dalam harga pokok produksi sedangkan biaya tetap dianggap sebagai biaya periodik.
Tuanakotta ( 1999:252) manyatakan, “fixed cost pada metode pembiayaan variabel diklasifikasikan sebagai period cost dan dianggap sebagai biaya untuk periode sekarang”.
Harga pokok produk menurut metode variabel terdiri dari:
1) biaya bahan baku,
2) biaya tenaga kerja,
3) overhead pabrik variable.
Dalam metode variabel, overhead pabrik tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukan sebagai unsur harga pokok produk, sehingga overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Dengan demikian overhead pabrik tetap didalam metode variable costing tidak melakat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya dalam periode terjadinya.
Jika metode full costing menunda pembebanan overhead pabrik tetap maka metode variable costing sebaliknya tidak menyetujui penundaan pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut. Penundaaan pembebanan suatu biaya hanya bermanfaat jika dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindari terjadinya biaya yang sama dalam periode yang akan datang.
Metode pembiayaan variabel memberikan keuntungan bagi manajemen dalam membuat keputusan dan menetukan pengendalian biaya. Misalnya menentukan penerimaan pesanan khusus. Tetapi diluar kebutuhan manajemen tersebut, konsep ini diragukan terutama dalam penilaian asset dan penentuan laba periodik.

2.3.1.3 Metode Akumulasi Biaya Produksi
Akumulasi biaya merupakan cara untuk mengetahui seberapa besar biaya yang dikerluarkan untuk suatu produk dan jasa dalam perhitungan harga pokok produksi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam akumulasi biaya, tetapi yang lazim digunakan adalah dua metode sebagai berikut:
a. Metode harga pokok pesanan ( job order costing method )
b. Metode harga pokok proses ( process costing method )

2.3.1.3.1 Metode harga pokok pesanan
Sutrisno (1999 : 71 ) mengatakan, “metode harga pokok pesanan adalah cara penentuan harga pokok dimana biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk sejumlah produk atau jasa tertentu yang dapat dipisahkan identitas masing-masing produk tersebut dan perlu ditentukan harga pokoknya secara individual”.
Adapun karakteristik biaya pesanan secara umum
1) sifat proses produksi yang dilakukan terputus-putus, dan tergantung pada pesanan yang diterima,
2) spesifikasi dan bentuk produk tergantung pada pemesan,
3) pencatatan biaya produki masing-masing pesanan dilakukan secara terpisah pada setiap pesanan,
4) harga pokok produksi dan laba kotor juga dihitung berdasarkan masing-masing pesanan,
5) total biaya produksi untuk setiap elemen biaya dikalkulasi setelah pesanan selesai,
6) biaya perunit dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang dipesan,
7) sistem biaya biasanya menggunakan metode biaya normal.

Sistem biaya normal adalah sistem akuntansi dimana bahan baku dan tenaga kerja langsung dibebankan pada objek biaya berdasarkan biaya actual, dan biaya overhead pabrik dibebankan berdasarkan tariff ditentukan dimuka.
Untuk menentukan biaya berdasarkan pesanan secara teliti dan akurat, setiap pesanan harus dapat diidentifikasi secara terpisah dan terlihat secara terperinci dalam kartu biaya pesanan untuk masing-masing pesanan. Metode harga pokok pesanan ini dapat diterapkan untuk pekerjaan pada perusahaan manufaktur, pekerjaan konstruksi, industri percetakan, jasa pelayanan hukum, jasa arsitek, dsb.
Prosedur akuntansi untuk metode harga pokok pesanan adalah sbb:
1) biaya- biaya produksi diakumulasikan pada setiap pesanan,
2) biaya-biaya produksi untuk setiap pesanan dan data lainnya yang berhubungan dengan pesanan tersebut diakumulasikan dalam kartu biaya pesanan,
3) pemakaian biaya-biaya produksi untuk setiap pesanan dibebankan pada perkiraan barang dalam proses,
4) setelah produk selesai dikerjakan, kartu pesanan diikhtisarkan, dan biaya perunit dihitung dengan membagikan jumlah biaya produksi untuk setiap pesanan tersebut dengan jumlah unit yang dihasilkan, biaya produksi yang semula dibebankan ke perkiraan barang dalam proses dipindahkan ke perkiraan barang jadi.

Berikut diberikan contoh perhitungan biaya berdasarkan pesananan:
PT. Medan Motor adalah perusahaan penghasil komponen untuk sepeda motor, proses produksi yang digunakan adalah berdasarkan pesanan.
Data beikut adalah data transaksi harian yang dicatat dalam buku besar perusahaan:

1. Pembelian dan penerimaan bahan
Bahan A Rp. 1.200.000
Bahan B Rp. 1.600.000
Bahan C Rp. 1.350.000
Bahan D Rp. 800.000
Rp. 4.950.000
Biaya dibayar dimuka Rp. 1.240.000
Jurnal :
Bahan Rp. 4.950.000
Biaya dibayar dimuka Rp. 1.240.000
Utang usaha Rp. 6.190.000

2. Penggunaan bahan
Penggunaan bahan langsung untuk:
Pesanan 1 Rp. 1.040.000
Pesanan 2 Rp. 1.200.000
Pesanan 3 Rp. 900.000
Total Rp. 3.140.000
Penggunaan BTL Rp 720.000
Rp. 3.860.000
Jurnal :
Barang dalam proses Rp. 3.140.000
Pengendali overhead pabrik Rp. 720.000
Bahan Rp. 3.860.000

3. Biaya tenaga kerja dilihat dari kartu jam tenaga kerja
Tenaga kerja langsung:
Pesanan 1 Rp. 1.220.000
Pesanan 2 Rp. 1.400.000
Pesanan 3 Rp. 1.000.000
Total Rp. 3.620.000
Tenaga kerja tak langsung Rp. 425.000
Rp. 4.045.000
Jurnal:
Barang dalam proses Rp. 3.620.000
Pengendali overhead pabrik Rp. 425.000
Utang gaji Rp. 4.045.000

4. Biaya-biaya terjadi yang berkaitan dengan overhead pabrik
Biaya penyusutan mesin Rp. 750.000
Biaya listrik Rp. 500.000
Pajak Bumi dan Bangunan pabrik Rp. 150.000
Gaji supervise produksi Rp. 1.250.000
Jurnal:
Pengendali overhead pabrik Rp.2.650.000
Biaya penyusutan mesin Rp. 750.000
Biaya listrik Rp. 500.000
Pajak bumi dan bangunan pabik Rp. 150.000
Gaji supervise pabrik Rp. 1.250.000

5. Pembebanan biaya overhead pabrik pada pesanan, berdasarkan tariff ditentukan dimuka, dengan tariff 80% dari biaya tenaga kerja langsung
Jurnal:
Barang dalam proses Rp. 2.896.000
BOP dibebankann Rp.2.896.000
Perhitungan untuk masing-masing pesanan:
Pesanan 1 = 80% x Rp. 1.220.000 = Rp. 976.000
Pesanan 2 = 80% x Rp. 1.400.000 = Rp. 1.120.000
Pesanan 3 = 80% x RP. 1.000.000 = Rp. 800.000
Rp. 2.896.000

6. Ketiga pesanan telah selesai dikerjakan dan siserahkan ke pemesan dengan nilai masing-masing pesanan 1,2, dan 3 yaitu, Rp. 4.200.000, Rp. 4.120.000, Rp. 4.260.000
Jurnal:
Kas/ Piutang usaha Rp. 12.580.000
Penjualan Rp. 12.580.000
Harga pokok penjualan Rp. 9.656.000
Barang jadi Rp. 9.656.000
Harga pokok penjualan = Harga pokok produksi
Perhitungan maing-masing harga pokok produksi pesanan 1, 2, dan 3, sbb:

Pesanan 1 Pesanan 2 Pesanan 3
Bahan langsung Rp. 1.040.000 Rp. 1.200.000 Rp. 900.000
Tenaga kerja langsung Rp. 1.220.000 Rp. 1.400.000 Rp. 1.000.000
BOP dibebankan Rp. 976.000 Rp. 1.120.000 Rp. 800.000
Total Rp. 3.236.000 Rp. 3.720.000 Rp. 2.700.000

7. Selisih pembebanan biaya overhead actual dan yang dibebankan lebih tinggil sebesar Rp. 246.000 ( 2.896.000- 2.650.000)

Untuk pembebanan biaya overhead yang ditentukan dimuka, dapat terjadi selisih pembebanan terlalu tinggi maupun terlalu rendah, oleh karena itu diperlukan suatu perlakuan untuk penyesuaikannya.
Ada dua cara, yaitu:
1) ditutup ke harga pokok penjualan,
2) dialokasikan antara barang dalam proses, barang jadi dan harga pokok penjualan dalam propersi overhead yang dibebankan pada periode tersebut, yaitu pada saldo akhir masing-masing akun.

2.3.1.4 Metode Harga Pokok Proses
Pada industri manufaktur yang menghasilkan produk massa, umumnya biaya produksi dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode harga pokok proses, karena produk yang dihasilkan relative homogen sehingga pencatatan biaya dari setiap jenis produk tidak perlu dilakukan.
Metode harga pokok proses adalah cara penentuan harga pokok yang membebankan biaya-biaya produksi selama periode tertentu kepada proses atau kegiatan produksi dan membagikannya secara merata kepada produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.


Adapun karakteristik metode harga pokok proses adalah sebagai berikut :
1) aktivitas produksi bersifat terus menerus,
2) produksi bersifat massa, dengan tujuannya mengisi persediaan yang siap dijual,
3) produk yang dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya relatif homogen dan berdasarkan standar,
4) biaya dibebankan kesetiap unit dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi,
5) pengumpulan biaya dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu.

Metode harga pokok proses, mengembangkan prosedur untuk:
1) pengumpulan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik untuk masing-masing departemen,
2) perhitungan biaya perunit untuk masing-masing departemen,
3) memindahkan biaya dari departemen sebelumnya ke departemen berikutnya atau ke gudang produk jadi,
4) membebankan biaya ke barang dalam proses yang terdapat pada setiap departemen.

Ekuivalen unit dalam metode harga pokok proses
Pada penentuan biaya proses, umumnya tidak semua produk yang dimasukkan dalam proses selesai akhir periode bersangkutan, sering kali adanya persediaan awal dan akhir dari barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian yang beragam.Untuk pembebanan biaya apabila terdapat barang dalam proses dengan tingkat penyelesaian tertentu, perlu dilakukan penyetaraan barang dalam proses tersebut menjadi barang jadi yang disebut dengan unit ekuivalen produksi. Jadi unit ekuivalen produksi menunjukkan unit barang jadi dan unit barang dalam proses yang disetarakan dengan barang jadi.

Ada dua metode untuk perhitungan unit ekuivalen produksi, yaitu :
a.) Metode rata-rata tertimbang
b.) Metode FIFO


2.3.1.4.1 Metode rata-rata tertimbang
Dengan merata-ratakan biaya penyelesaian persediaan awal barang dalam proses periode sebelumnya dengan menambahkan biaya periode berjalan untuk mendapatkan biaya perunit. Kebaikan dari metode ini adalah sederhana, dengan memperlakukan unit pada persediaan awal barang dalam proses sebagai produk periode berjalan, semua unit ekuivalen akan termasuk dalam kategori yang sama pada saat perhitungan biaya perunit. Sedangan kelemahan utama metode ini adalah kurang akuratnya perhitungan biaya perunit untuk output periode berjalan dan untuk unit pada persediaan awal barang dalam proses.
Rumus : Unit ekuivalen produksi = produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian)

2.3.1.4.2 Metode FIFO
Memisahkan biaya perunit yang terdapat pada persediaan awal dari biaya perunit produk yang dimasukkan dan diselesaikan pada suatu periode tertentu. Biaya produk yang ditransfer terdiri dari biaya barang dalam prosesa awal dari periode sebelumnya, dan biaya produk selama periode berjalan.
Rumus: Unit ekuivalen produksi = produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian)- (BDP awal x tingkat penyelesaian)

2.4 Laporan biaya produksi
Dalam penentuan biaya proses, semua biaya yang dibebankan kesetiap departemen produksi dapat diikhtisarkan dalam laporan biaya produksi untuk masing-masing departemen. Laporan biaya produksi setiap departemen memiliki format yang beragam, dengan informasi menunjukkan skedul kuantitas, pembebanan biaya, dan pertanggungjawaban biaya.

a) Skedul kuantitas,memnuat informasi BDP awal, barang masuk proses pada periode bersangkutan, barang jadi yang ditransfer ke dapartemen berikutnya atau gudang, BDP akhir, produk hilang, produk rusak dan produk cacat.

b) Biaya dibebankan, memuat informasi biaya BDP awal, biaya yang dibebankan dari departemen sebelumnya, biaya dibebankan periode bersangkutan, unit ekuivalen dan biaya perunit masing-masing elemen biaya.
c) Pertanggungjawaban biaya, memuat informasi biaya yang ditransfer kedepartemen berikutnya atau gudang, biaya produk yang hilang akhir proses, biaya produk rusak, biaya produk cacat. Biaya yang telah di serap BDP.
Contoh soal perhitungan biaya metode harga pokok produksi.
PT. Sulit Air adalah perusahaan minuman dalam kemasan botol, mempunyai dua departemen produksi, yaitu departemen pencampuran dan departemen pengolahan.
Data produksi dan biaya untuk bulan September 2007 sebagai berikut:
Data Produk :
Departemen pencampuran
Barang masuk proses 75.000 L
Barang selesai di transfer ke departemen pengolahan 74.500 L
Barang dalam proses akhir 500 L
(tingkat penyelesaian 100%bahan,80%biaya konversi)
Departemen pengolahan
Produk diterima dari departemen pencampuran 74.500 L
Penambahan unit produk 1.000 L
Produk selesai ditransfer ke gudang 75.200 L
Barang dalam proses akhir 300 L
(tingkat penyelesaian 100% bahan, 75% biaya konversi)
Penyelesaian:
1. Unit ekuivalen
Departemen pencampuran
Produk selesai + (BDP akhir x tingkat penyelesaian)
Bahan : 74.500 L + ( 500L x 100% ) = 75.000 L
Biaya konversi: 74.500 L + ( 500L x 80 % ) = 74.900 L
Departemen pengolahan Bahan : 75.200 L + ( 300L x 100%) = 75.500 L
Biaya konversi: 75.200 L + ( 300l x 75%) = 75.425 L




2. Laporan Biaya Produksi
PT. SULIT AIR
LAPORAN BIAYA PRODUKSI DEPARTEMEN PENCAMPURAN
BULAN SEPTEMBER 2007

1. Skedul kuantitas
Barang masuk proses 75.000 L
Barang yang di transfer ke departemen pengolahan 74.500 L
Barang dalam proses akhir
(100%bahan, 80% biaya konversi ) 500 L
75.000 L
2. Biaya dibebankan
Elemen biaya Total U.E Biaya / unit
Bahan baku Rp. 9.000.000 75.000 L Rp. 120
Tenaga kerja Rp. 5.617.500 74.900 L Rp. 75
Overhead pabrik Rp. 7.490.000 74.900 L Rp. 100
Rp. 22.107.500 Rp. 295

3. Pertanggungjawaban biaya
HP. Selesai ditaransfer ke departemen pengolahan 74.500L x Rp. 295 Rp. 21.977.500
HP. Produk dalam proses
Biaya bahan : 500 x 100% x Rp 120 = 60.000
Biaya tenaga kerja: 500 x 80 % x Rp 75 = 30.000
Biaya overhead : 500 x 80 % x Rp 100 = 40.000
Rp. 130.000
TOTAL Rp. 22.107.500





PT. SULIT AIR
LAPORAN BIAYA PRODUKSI
DEPARTEMEN PENGOLAHAN
BULAN SEPTEMBER 2007

1. Skedul kuantitas
Produk diterima dari departemen pencampuran 74.500L
Produk tambahan 1.000L
75.500L
Produk di transfer ke gudang 75.200L
Produk dalam proses akhir
(100% bahan, 75% biaya konversi) 300L
75.500L
2. Biaya dibebankan
Elemen biaya Total U.E Biaya/ unit
dr dept. pencampuran Rp.21.977.500 75.500L Rp. 291,093
Bahan baku Rp. 6.040.000 75.500L Rp. 80
Tenaga kerja Rp. 4.525.500 75.425L Rp. 60
Overhead pabrik Rp. 3.017.000 75.425L Rp. 40
Rp. 35.560.000 Rp. 471,093
3. Pertanggungjawaban biaya
HP. selesai ditransfer ke gudang
75.200L x Rp. 471,093 Rp. 35.426.193,6
HP barang dalam proses
HP. dept pencampuran: 300 x Rp 291,093 = 87.327,9
Biaya bahan : 300 x 100%x Rp80= 24.000
Biaya tenaga kerja : 300 x 75% x Rp 60= 13.500
Biaya overhead : 300 x 75% x Rp 40= 9.000
Rp. 133.827,9
TOTAL Rp. 35.560.021,5

2.5 Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing
Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak pada perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif (budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat pembebanan lebih atau kurang.
Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel. Sedangkan unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak termasuk biaya overhead pabrik tetap.
Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :
1. Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan laba rugi didasarkan pendekatan “fungsi”. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya produksi adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel costing, menggunakan pendekatan “tingkah laku”, artinya perhitungan harga pokok dan penyajian dalam laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.
2. Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.
3. Menurut metode full costing, biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok, sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik. Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih melekat pada persediaan produk atau jasa. Sedangkan dalam variabel costing, biaya tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.
4. Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan (over-applied factory overhead). Menurut metode full costing, selisih tersebut dapat diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual (harga pokok persediaan).
5. Dalam metode full costing, perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.
6. Dalam variabel costing, menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin), yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full costing dengan metode variable costing adalah :
1. Dalam metode full costing, dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode yang sama.
2. Dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead pabrik telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan, sehingga tidak terdapat bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya.
3. Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode full costing. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi.
4. Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel, sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP) dalam rangka perencanaan dan pengendalian.
Dalam praktiknya, variable costing tidak dapat digunakan secara eksternal untuk kepentingan pelaporan keuangan kepada masyarakat umum atau tujuan perpajakan
 Akuntansi Biaya dalam perusahaan manufaktur bertujuan untuk menentukan harga pokok per satuan produk yang dihasilkan.
 Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktur harus mengikuti proses pengolahan produk, sejak dari bahan baku dimasukkan dalam proses sampai menjadi produk jadi, seperti dalam skema berikut ini:

Siklus Siklus
Pembuatan Produk Akuntansi Biaya


Pembelian dan Harga Pokok
Penyimpanan Persediaan
Bahan Baku Bahan Baku
Biaya Biaya
Tenaga Kerja Overhead
Langsung Pabrik

Pengolahan Harga Pokok
Bahan Baku Bahan Baku
Menjadi yang Dipakai
Produk Jadi




Persediaan Harga Pokok
Produk Jadi Produk Jadi

2.6 Perbedaan Karakteristik Metode dan Proses Dalam Menentukan Harga Pokok
2.6.1 Perbedaan Karakteristik Metode Harga Pokok Proses dan Metode Harga Pokok Pesanan
Karakteristik kedua metode tersebut berkaitan dengan karakteristik proses pengolahan produknya, yaitu:
Perusahaan yang berproduksi massa Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan
Proses pengolahan produk Terus menerus (kontinyu) Terputus-putus (intermitten)
Produk yang dihasilkan Produk standar Tergantung spesifikasi pemesan
Produksi ditujukan untuk Mengisi persediaan Memenuhi pesanan
Contoh perusahaan Perusahaan kertas, semen, tekstil, dll Perusahaan percetakan, mebel, kontraktor, dll

2.6.2 Perbedaan Karakteristik Proses Produksi Metode Harga Pokok Proses dan Metode Harga Pokok Pesanan
Metode Harga Pokok Proses Metode Harga Pokok Pesanan
Biaya produksi dikumpulkan Setiap bulan atau periode penentuan harga pokok produk Untuk setiap pesanan
Harga pokok per satuan produk dihitung Pada akhir bulan/periode penentuan harga pokok produk
Apabila pesanan telah selesai diproduksi
Rumus perhitungan harga pokok per satuan Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan selama bulan/periode tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama bulan/periode ybs. Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk pesanan tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang diproduksi dalam pesanan ybs.

2.7 Akuntansi Biaya Berdasarkan Metode Harga Pokok Pesanan
 Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan, memulai kegiatan produksinya setelah menerima order dari pembeli, tetapi sering juga terjadi, perusahaan mengeluarkan order produksi untuk mengisi persediaan di gudang.
 Syarat penggunaan Metode Harga Pokok Pesanan:
 Masing-masing pesanan, pekerjaan, atau produk dapat dipisahkan identitasnya secara jelas dan perlu dilakukan penentuan harga pokok pesanan secara individual.
 Biaya produksi harus dipisahkan ke dalam dua golongan, yaitu: biaya langsung (BBB & BTKL) dan biaya tak langsung (selain BBB & BTKL).
 BBB dan BTKL dibebankan/diperhitungkan secara langsung terhadap pesanan ybs., sedangkan BOP dibebankan kepada pesanan atas dasar tarif yang ditentukan di muka.
 Harga pokok setiap pesanan ditentukan pada saat pesanan selesai.
 Harga pokok per satuan produk dihitung dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dibebankan pada pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk dalam pesanan ybs.
 Untuk mengumpulkan biaya produksi tiap pesanan digunakan Kartu Harga Pokok (Job Cost Sheet), yang merupakan rekening/buku pembantu bagi rekening kontrol Barang Dalam Proses.
2.7.1 Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Pesanan
2.7.1.1 Pencatatan Biaya Bahan Baku (BBB)
Dibagi dua prosedur, yi:
 Prosedur pencatatan pembelian bahan baku, jurnalnya:
Persediaan Bahan Baku xxx
Utang Dagang/Kas xxx
 Prosedur pencatatan pemakaian bahan baku, menggunakan metode mutasi persediaan (perpetual). Dalam setiap pemakaian bahan baku harus diketahui pesanan mana yang memerlukannya. Jurnalnya:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx
Persediaan Bahan Baku xxx

2.7.1.2 Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)
 Diperlukan pengumpulan dua macam jam kerja, yi:
 Jam kerja total selama periode kerja tertentu.
 Jam kerja yang digunakan untuk mengerjakan setiap pesanan.
 Perusahaan harus menyelenggarakan kartu hadir masing2 karyawan, untuk mengumpulkan informasi jam kerja total selama periode kerja tertentu, untuk pembuatan Daftar Upah. Disamping itu, perusahaan harus mencatat penggunaan jam kerja masing2 karyawan untuk mengerjakan pesanan. (Masing2 karyawan dibuatkan Kartu Jam Kerja/Job Time Ticket)
 Jurnal untuk pembagian upah:
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx
Gaji dan Upah xxx

2.7.1.3 Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)
 BOP dikelompokkan menjadi bbrp golongan, yi:
 Biaya Bahan Penolong
 Biaya reparasi dan pemeliharaan, berupa pemakaian persediaan spareparts dan persediaan supplies pabrik
 Biaya tenaga kerja tak langsung
 Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap (contoh: biaya penyusutan aktiva tetap)
 Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu (contoh: terpakainya asuransi dibayar di muka)
 Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran tunai (contoh: biaya reparasi mesain pabrik, biaya listrik)
 BOP dalam metode harga pokok pesanan harus dibebankan kepada setiap pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
 Tarif BOP ditentukan pada awal tahun/periode dengan cara sbb:
Tarif BOP = Taksiran jumlah BOP selama 1 periode
Jumlah Dasar pembe
Dasar Pembebanan BOP:
 Satuan produk
 Biaya Bahan Baku
 Biaya Tenaga Kerja Langsung
 Jam Tenaga Kerja Langsung
 Jam Mesin

 BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan selama satu tahun yang sama, kemudian pada akhir tahun dibandingkan dengan yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif
 Pencatatan BOP yang Dibebankan kepada produk:
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx
 Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan (untuk mempertemukan BOP Dibebankan dengan BOP Sesungguhnya)
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
 Pencatatan BOP yang Sesungguhnya:
Misal: 1. Pemakaian Bahan Penolong:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
Persediaan Bahan Penolong xxx
2. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Tak langsung:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx
Gaji dan Upah xxx

2.7.1.4 Pencatatan Produk Selesai
 Biaya produksi yang telah dikumpulkan dalam Kartu Harga Pokok dijumlah dan dikeluarkan dari rekening Barang Dalam Proses dengan jurnal sbb:
Persediaan Produk Jadi xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx
 Harga Pokok Produk jadi dicatat dalam Kartu Persediaan (Finish Goods Ledger Card) dan Kartu Harga Pokok Pesanan tersebut dipindahkan ke dalam arsip Kartu Harga Pokok Pesanan yang telah selesai.

2.8 Akuntansi Biaya Berdasarkan Metode Harga Pokok Proses
2.8.1 Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Proses
2.8.1.1 Biaya Bahan
Pencatatan pemakaian Bahan Baku di Departemen A:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Departemen A xxx
Persediaan Bahan Baku xxx

Pencatatan pemakaian Bahan Penolong pada Bagian Produksi:
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen A xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen B xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong Departemen C xxx
Persediaan Bahan Penolong xxx




2.8.1.2 Biaya Tenaga Kerja (Langsung & Tak Langsung):
Pencatatan biaya tenaga kerja (langsung & tak langsung) di Departemen Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen A xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen B xxx
Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Departemen C xxx
Gaji dan Upah xxx

2.8.1.3 Biaya Overhead Pabrik
BOP pada Metode Harga Pokok Proses adalah biaya produksi selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya tenaga kerja, baik langsung maupun tak langsung yang terjadi di departemen produksi.
BOP dapat dibebankan kepada produk atas dasar tarif dan dapat juga dibebankan atas dasar BOP yang sesungguhnya terjadi dalam satu periode.
Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk dapat dilakukan jika:
• Produksi relatif stabil dari periode ke periode
• BOP, terutama yang tetap, bukan merupakan bagian yang berarti dibandingkan dengan jumlah seluruh biaya produksi
• Hanya diproduksi satu macam produk.
• Pencatatan berbagai jenis BOP di Departemen Produksi:
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik xxx
Persediaan Spareparts xxx
Persediaan Bahan lain-lain xxx
Asuransi Dibayar di Muka xxx







2.9 Tujuan dan Manfaat Penentuan Harga Pokok Produksi
Penentuan harga pokok produksi dalam suatu perusahaan sangat penting dilakukan karena perusahaan membutuhkannya untuk menentukan harga jual dari produknya maupun tujauan lainnya yang erat hubungannya dengan penentuan strategi dan efisiensi perusahaan dalam bersaing.

Berikut diberikan beberapa tujuan umum dari penentuan harga pokok produksi.
a. Sebagai pengawasan dari biaya yaitu untuk menghindari pemborosan. Agar diperoleh harga pokok produksi yang teliti serta pengawasan yang baik, maka biaya digolangkan pada setiap proses atau departemen-departemen. Biaya yang sebenarnya terjadi pada setiap proses dibandingkan denagn standar. Dengan demikian pemborosan dapat dihindari karena standar dibentuk berdasarkan biaya yang seharusnya terjadi.
b. Sebagai alat perencanaan, sebelum produksi dijalankan terlebih dahulu membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, misalnya apakah produksi ditingkatkan atau dikurangi dan juga dibuat ramalan atas unsure-unsur biaya yang diperlukan untuk setiap periodenya. Perencanaan ini penting agar seluruh keperluan dapat diketahui dan disediakan pada jumlah dan waktu yang diperlukan.
c. Sebagai pedoman menentukan harga jual. Biaya produksi bukanlah factor utama menetapkan harga jual, tetapi menjaga agar harga jual tetap berada diatas harga pokok produksi.
d. Harga pokok produksi perlu untuk menentukan nilai persediaan yang mana menjadi syarat mutlak dalam menetapakan harga pokok penjualan dengan teliti.
e. Menentukan efisiensi atau tidaknya suatu perusahaan, ini dilakukan dengan membandingkan harga pokok histories dengan harga pokok standar. Hal ini berguna untuk pengawasan biaya maupun sebagai alat perencanaan.

Disamping tujuan-tujuan yang diuraikan diatas, penentuan harga pokok produksi penting bagi manajemen untuk keperluan analitis dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah khusus berikut ini.
a. Apakah perlu dilakukan perubahan dalam komposisi dari biaya-biaya langsung didalam melakukan produksi sehingga dapat dihasilkan barang jadi yang kualitasnya sama dengan barang jadi yang dihasilkan sebelum dilakukan perubahan komposisi. Dengan dilakukannya perubahan komposisi ini diharapkan juga harga pokok produksi dapat ditekan serendah mungkin.
b. Apakah tenaga kerja langsung perlu ditambah atau dikurangi.
c. Apakah sebaiknya perusahaan membeli bahan atau produk tertentu dari pihak luar atau memproduksi sendiri.

Definisi operasional :
Menurut Rayburn ( 1999: 31), “harga pokok produksi meliputi keseluruhan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa”.
Unsur- unsur dalam perhitungan harga pokok produksi, yaitu: biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsuung, dan overhead pabrik.
a. Biaya bahan baku langsung
Perhitungan biaya bahan baku yang digunakan oleh UD. Sumber Nelanyan yaitu dengan cara mengalikan harga bahan baku per kilo dengan beratnya bahan baku yang digunakan.
b. Biaya tenaga kerja langsung
Perusahaan menggunakan system upah borongan dalam menghitung biaya tenaga kerja yang brhubungan dengan proses produksi.
c. Biaya overhead pabrik
Overhead pabrik digunakan tarif aktual karena harga pokok dihitung setelah barang selesai diproses yaitu berdasarkan catatan historikal.

2.10 Harga Jual
2.10.1 Pengertian Harga Jual
Harga jual adalah sejumlah kompensasi (uang ataupun barang) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang atau jasa. Perusahaan selalu menetapkan harga produknya dengan harapan produk tersebut laku terjual dan boleh memperoleh laba yang maksimal. Hansen dan Mowen (2001:633) mendefinisikan “harga jual adalah jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan”. Menurut Mulyadi (2001:78) “pada prinsipnya harga jual harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual sama dengan biaya produksi ditambah mark-up”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

2.10.2 Sasaran Penetapan Harga Jual
Para pemasar berusaha untuk mencapai sasaran tertentu melalui komponen-komponen penetapan harga. Beberapa perusahaan mencoba untuk meningkatkan keuntungan dengan menetapkan harga rendah untuk menarik bisnis baru. Menurut Boone dan Kurtz (2002:70) “ada empat kategori dasar atau sasaran penetapan haga, yaitu: 1) profitabilitas, 2) volume, 3) tingkat kompetisi, dan 4) pretise”.
1) Sasaran profitabilitas
Sebagian besar perusahaan mengejar sejumlah sasaran profitabilitas dalam strategi penetapan harganya. Para pemasar mengerti bahwa laba diperoleh dari selisih pendapatan dan beban. Dan juga pendapatan merupakan harga jual dikalikan dengan jumlah yang terjual. Berbagai teori ekonomi mendasari prinsip maksimalisasi keuntungan (profit maximization). Akan tetapi pada kenyatannya prinsip ini masih sulit diterapkan. Maka banyak perusahaan beralih pada sasaran profitabilitas yang lebih sederhana, yaitu Target Return Goal, dimana perusahaan menetapkan harga dengan tingkat profitabilitas yang diinginkan sebagai pengembalian finansial atas penjualan ataupun investasi.
2) Sasaran volume
Pendekatan yang lain dalam strategi penetapan harga disebut maksimalisasi penjualan (sales maximization), para manajer menetapkan tingkat minimum profitabilitas yang dapat diterima dan kemudian menetapkan harga yang akan mengahasilkan volume penjualan tertinggi tanpa menyebabkan laba turun di bawah level itu. Strategi ini memandang ekspansi penjualan sebagai suatu prioritas yang lebih penting bagi posisi persaingan jangka panjang perusahaan daripada laba jangka pendek.
3) Tingkat Kompetisi
Sasaran penetapan harga ini hanyalah untuk menyamakan harga dengan pesaing. Jadi perusahaan berusaha untuk menghindari perang harga dengan tidak menekankan elemen harga dari bauran pemasaran dan memfokuskan usaha persaingannya pada variabel selain harga seperti menambah nilai, meningkatkan kualitas, mendidik konsumen, dan menciptakan hubungan.
Sasaran Prestise. Pengaruh harga pada prestise membuat sebuah harga menjadi relatif tinggi untuk mengembangkan dan menjaga sebuah citra dari kualitas dan eksklusivitas. Para pemasar menetapkan sasaran tersebut karena mereka mengakui peran harga dalam mengkomunikasikan citra suatu perusahaan dan produk-produknya.

2.10.3 Strategi Penentuan Harga Jual
Harga yang ditentukan untuk sebuah produk akan mempengaruhi pendapatan perusahaan dan pada akhirnya tingkat laba. Perusahaan menentukan harga jual produknya dengan tiga dasar pertimbangan yaitu biaya produksi, suplai persediaan, dan harga persaingan.
1) Penentuan harga berdasarkan biaya produksi
Pada strategi ini, perusahaan menentukan harga untuk sebuah produk dengan mengestimasi biaya per unit untuk memproduksi produk tersebut dan menambahkan suatu kenaikan. Jika metode ini digunakan, perusahaan harus mencatat semua biaya yang melengkapi produksi sebuah produk dan diupayakan agar harga tersebut dapat menutupi semua biaya tersebut.Sebuah strategi harga harus menghitung skala ekonomis. Bagi produk atau jasa yang berada di dalam skala ekonomis, harga harus cukup rendah agar dapat mencapai volume tingkat penjualan yang tinggi sehingga biaya produksi mengalami penurunan.
2) Penentuan harga berdasarkan suplai persediaan
Pada umumnya perusahaan cenderung menurunkan harga jika mereka harus mengurangi persediaan.
3) Penentuan harga berdasarkan harga pesaing

Penentuan harga berdasarkan harga pesaing dibagi atas tiga yaitu:
a) Penentuan harga penetrasi, dimana perusahaan menentukan harga yang lebih rendah dari harga pesaing agar dapat menembus pasar. Keberhasilan penentuan harga penetrasi tergantung pada seberapa besar tanggapan konsumen terhadap penurunan harga dan juga perusahaan tidak perlu menggunakan strategi ini bila produknya tidak elastis terhadap harga karena kebanyakan konsumen tidak akan beralih ke produk pesaing untuk mengambil keuntungan dari harga yang lebuh rendah.
b) Penentuan harga defensive, dimana perusahaan menrunkan harga produk untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Selain itu beberapa perusahaan juga menurunkan harga untuk menyerang pesaing baru yang masuk ke dalam pasar, disebut dengan biaya predatori.
c) Penentuan harga prestise, harga prestise ditentukan dengan tujuan untuk memberikan kesan lini terbaik bagi produk perusahaan. Perusahaan yang memiliki diversifikasi bauran produk akan menggunakan strategi penetrasi harga pada beberapa produk dan penentuan harga prestise untuk produk lainnya.

2.10.4 Alternatif Strategi Penetapan Harga
Banyak strategi-strategi khusus yang digunakan oleh perusahaan untuk menentukan harga barang dan jasa, yang berasal dari strategi pemasaran yang mereka rumuskan untuk mencapai keseluruhan sasaran organisasi. Menurut Sukirno (2006 : 226) ada enam strategi Penetapan harga : (1) Penetapan harga yang kompetitif. (2) Menentukan harga terobosan. (3) Menetapkan harga berdasarkan permintaan. (4) Kepemimpinan harga. (5) Menjual barang berkualitas dengan harga yang rendah. (6)

Kebijakan harga tinggi jangka pendek.
1) Penetapan Harga Kompetitif
Hal ini berlaku pada pasar dimana terdapat produsen atau penjual. Dalam pasar seperti ini untuk menjual barangnya, perusahaan harus menetapkan harga pada tingkat yang bersamaan dengan barang yang sejenis yang dipasarkan.
2) Menentukan Harga Terobosan
Cara ini sering dipakai ketika meluncurkan barang baru, yang menetapkan harga pada tingkat yang rendah atau murah dengan harapan dapat memaksimalkan volume penjualan.
3) Menetapkan Harga berdasarkan Permintaan
Penentuan harga barang ini terutama dipraktekkan oleh perusahaan jasa seperti pengangkutan Kereta Api, Jasa Penerbangan, Restoran dan Bioskop. Perusahaan Kereta Api misalnya, menawarkan tiket murah untuk orang yang selalu berpergian bagi pelajar dan orang tua yang sudah pensiun.
4) Kepemimpinan Harga
Penentuan harga seperti ini berlakun dalam pasar barang yang bersifat oligopoli yang merupakan struktur pasar, dimana terdapat perusahaan yang dominan yang mempunyai persaingan yang lebih kukuh dari pada perusahaan lainya.
5) Menjual Barang berkualitas dengan Harga Rendah
Kebijakan ini dapat dilakukan oleh perusahaan industri Manufaktur atau Hypermarket seperti Makro dan Carrefour. Srategi penentuan harga mereka lebih menekankan kepada peningkatan volume barang yang terjual dan bukan memperoleh keuntungan yang tinggi.
6) Kebijakan Harga Tinggi Jangka Pendek
Kebijakan Harga (Price Skimming) adalah cara untuk menetapkan harga tinggi yang bersifat sementara, yaitu pada waktu barang yang dihasilkan mulai dipasarkan. Pada periode itu, perusahaan belum menghadapi persaingan dan akan menetapkan harga yang tinggi supaya pengembalian modal dapat dipercepat.

Sedangkan menurut Boone dan Kurtz (2002:78),”secara umum, perusahaan dapat memilih dari tiga alternatif strategi penetapan harga: skimming, penetrasi, dan penetapan harga kompetitif”.
1) Strategi penetapan harga skimming, strategi ini sengaja menetapkan harga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk-produk pesaing.
2) Strategi penetapan harga penetrasi, menetapkan suatu harga rendah sebagai senjata utama pemasaran. Penetapan harga penetrasi mengasumsikan bahwa menetapkan harga di bawah harga pasar akan menarik para pembeli dan menggeser sebuah merek pendatang.
3) Strategi penetapan harga kompetitif, organisasi-organisasi mencoba mengurangi tekanan persaingan harga dengan menyamakan harga dengan perusahaan lain dan mengkonsentrasikan usaha pemasaran mereka pada elemen produk, distribusi, dan unsur-unsur promosi.

2.10.5 Metode Penetapan Harga
Menurut Herman (2006:175) ada beberapa metode penetapan harga (methods of price determination) yang dapat dilakukan budgeter dalam perusahaan, yaitu:
1) Metode taksiran (judgemental method)
2) Metode berbasis pasar (market-based pricing) a) Harga pasar saat ini (current market price)
b) Harga pesaing (competitor price)
c) Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current marker price)
3) Metode berbasis biaya (cost-based pricing)
a) Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up)
b) Biaya variabel plus tambahan tertentu (variable cos plus mark-up)

2.10.5.1 Metode Taksiran (Judgemental Method)
Perusahaan yang baru saja berdiri biasanya memakai metode ini. Pnetapan harga dilakukan dengan menggunakan instink saja walaupun market survey telah dilakukan. Biasanya metode ini digunakn oleh para pengusaha yang tidak terbiasa dengan data statistik. Penggunaan metode ini sangat murah karena perusahaan tidak memerlukan konsultan untuk surveyor. Akan tetapi tingkat kekuatan prediksi sangat rendah karena ditetapkan oleh instink.

2.10.5.2 Metode Berbasis Pasar (Market-Based Pricing)
a) Harga pasar saat ini (current market price)
Metode ini dipakai apabila perusahaan mengeluarkan produk baru, yaitu hasil modifikasi dari produk yang lama. Perusahaan akan menetapkan produk baru tersebut seharga dengan produk yang lama. Penggunaan metode ini murah dan cepat. Akan tetapi pangsa pasar yang didapat pada tahun pertama relatif kecil karena konsumen belum mengetahui profil produk baru perusahaan tersebut, seperti kualitas, rasa, dan sebagainya.
b) Harga pesaing (competitor price)
Metode ini hampir sama dengan metode harga pasar saat ini. Perbedaannya menetapkan harga produknya dengan mereplikasi langsung harga produk perusahaan saingannya untuk produk yang sama atau berkaitan. Dengan metode perusahaan berpotensi mengalami kehilangan pangsa pasar karena dianggap sebagai pemalsu. Ini dapat terjadi apabila produk perusahaan tidak mampu menyaingi produk pesaing dalam hal kualitas, ketahanan, rasa, dan sebagainya.
c) Harga pasar yang disesuaikan (adjusted current market price)
Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan pada faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut dapat berupa antisipasi terhadap inflasi, nilai tukar mata uang, suku bunga perbankan, tingkat keuntungan yang diharapkan (required rate of return), tingkat pertumbuhan ekonomi nasional atau internasional, perubahan dalam trend consumer spendling, siklus dalam trendi dan model, perubahan cuaca, dan sebagainya. Faktor internalnya yaitu kemungkinan kenaikan gaji dan upah, peningkatan efisiensi produk atau operasi, peluncuran produk baru, penarikan produk lama dari pasar, dan sebagainya.
Dengan metode ini, perusahaan mengidentifikasi harga pasar yang berlaku pada saat penyiapan anggaran dengan melakukan survey pasar atau memperoleh data sekunder. Harga yang berlaku tersebut dikalikan dengan penyesuaian (price adjustment) setelah mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang ditetapkan dalam angka indeks (persentase). Indeks 87 berarti 87/100.

2.10.5.3 Metode Berbasis Biaya (Cost-Based Pricing)
a) Biaya penuh plus tambahan tertentu (full cost plus mark-up)
Dalam metode ini budgeter harus mengetahui berapa proyeksi full cost untuk produk tertentu. Full cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dan atau dibebankan sejak bahan baku mulai diproses sampai produk jadi siap untuk dijual. Hasil penjumlahan antara full cost dengan tingkat keuntungan yang diharapkan (required profit margin) yang ditentukan oleh direktur pemasaran atau personalia yang diberikan wewenang dalam penetapan harga, akan membentuk proyeksi harga untuk produk itu pada tahun anggaran mendatang. Required profit margin dapat juga ditetapkan dalam persentase. Untuk menetapkan profit, budgeter harus mengalikan full cost dengan persentase required profit margin. Penjumlahan antara profit dengan full cost akan menghasilkan proyeksi harga.
b) Biaya variabel plus tambahan tertentu (variable cost plus mark-up)
Dengan metode ini budgeter menggunakan basis variblel cost. Proyeksi harga diperoleh dengan menambahkan mark-up laba yang diinginkan. Mark-up yang diinginkan pada metode ini lebih tinggi dari mark-up dengan basis full cost. Hal ini disebabkan biaya variabel selalu lebih rendah daripada full cost.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode Deskriptif Analisis,yaitu metode yang memusatkan masalah yang ada pada saat ini dimana dalam prosesnya bukan sekedar mengumpulkan dan mengolah data,tetapi juga menganalisa, meneliti dan menginterpretasikan serta membuat kesimpulan dan memberi saran yang kemudian disusun pembahasannya secara sistematis sehingga dapat dipahami masalahnya. Untuk menunjang metode diatas pada penelitian ini penulis menggunakan dua jenis data yaitu:
1. Data primer
Yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian.Untuk mendapatkan data primer,penulis melaksanakan studi lapangan yaitu mengadakan peninjauan langsung ke tempat pelaksanaan kerja dengan cara:
a. Observasi,yaitu mengadakan peninjauan langsung ke objek penelitian pada beberapa perusahaan
b. Wawancara, yaitu upaya mendapatkan informasi secara lisan yaitu dengan melakukan tanya jawab kepada beberapa pejabat yang berwenang.
c. Dokumentasi, yaitu mencatat data-data yang diperlukan, sejarah singkat dari beberapa perusahaan, bidang usaha perusahaan dan data lainnya yang berhubungan dengan masalah yang di teliti.

2. Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh dengan memanfaatkan hasil dari pihak lain atau para ahli.Untuk mendapatkan data sekunder yang berhubungan dengan penelitian, penulis melakukan studi kepustakaan yaitu dengan cara mengumpulkan teori-teori dari buku kuliah, buku-buku dan literature-literature lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Teori-teori ini selanjutnya digunakan sebagai dasar pembahasan dalam skripsi.

Untuk versi word nya silahkan temen'' download disini

0 komentar:

Poskan Komentar